Mengejar Senja
Ada kota
Pulang ke kota mu, ada setangkup haru dalam rindu…
Sebelum aku memutuskan mengambil perjalanan ini seorang diri, telah kusiapkan mental untuk tak lagi menanggapi romantisme usang itu. Pasca perpisahan kami yang tak berakhir dengan baik aku sudah beberapa kali mengunjungi kota ini. Dan perasaan termehek-mehek itu terbukti mampu aku redam. Mungkin karena beberapa kunjungan itu berlangsung sangat singkat. Kerap aku datang pagi lalu segera kembali terbang petang harinya. Mungkin juga karena aku tak berangkat sendiri. Hingga tak sempat menanggapi rasa manja pada kenangan masa lalu.
Ini kali aku datang demi menutup serangkaian acara prosedural seleksi penerima beasiswa studi lanjutan di UGM yang terus aku tunda pemenuhannya. Aku sempat berhitung untuk tak terlalu menghambur uang demi pemenuhan acara ini. Telah hampir satu juta uang kuhabiskan demi membayar biaya pendaftaran, tes TOEFL yang sejak awal dan akhir terus aku umpat baik dalam proses dan hasilnya, serta tambahan biaya administrasi tiket keberangkatan yang semula bisa kuharap bisa didapatkan secara gratis dari Garuda (dengan sejumlah poin yang cukup untuk mendapatkan tiket Jakarta-jogja, aku masih dikenakan biaya pembelian minyak dan pajak yang harganya melebihi sebuah tiket kereta api eksekutif dalam peak season sekalipun).
Meski aku juga tak ingin berlaku seperti seorang businessman yang harus tergesa meninggalkan kota ini. Aku ingin memenuhi klangenanku pada kota ini.
***
Aku hubungi beberapa teman yang ku kenal demi mendapat tumpangan penginapan. Ada Fahri, laki-laki jangkung yang aku kenal lewat kelas Jurnalisme Sastrawi Pantau, tiga tahun silam. Evi, perempuan asal Ponorogo yang aku kenal lewat sebuah acara lomba penulisan yang diselenggarakan oleh CRCS UGM empat tahun silam (sebelum ini, aku sempat beberapa kali menginap di kos-nya saat statusnya belum berubah lewat beberapa kabar singkat yang mengabarkan ia menikah dan tengah berbadan dua). Juga Jaya Ginting, laki-laki Batak yang tampak memilih meniti karir pasca studi lanjutannya di kota ini. Aku mengenalnya lewat hubungan pertemanan tetangga kos ku di Menteng saat ini.
Kontak intensku kemudian lebih berfokus pada Fahri. Karena saat ku layangkan pesan singkat pada nomor Evi, sebuah balasan dari nomor lain muncul.
Maaf ini siapa ya? Nomor yang dihub barusan milik konsumen yang lagi servis hp lupa gak diambil. Makasih. Dealer Samsung.
Juga Jaya Ginting, kalau malam ini ok, besok aku ke Jakarta.
Maka aku janji bertemu dengan Fahri setiba ku di landasan kota ini. Di perempatan jalan MM UGM yang diaku Fahri dekat dengan kosnya.
Sebenarnya binun nih, ntar lu ditaro dimana ya? Tapi ketemu aja dulu. Nanti kabari kalau dah sampe ya?
Tulis Fahri saat aku masih menunggu pesawat di Jakarta.
Oks, ketemuan aja dulu. Tempat bisa dicari nanti. Begitu liat gue nantu lu juga langsung dapat ide, balasku
***
“Perempatannya arah mana, mbak?” tanya supir taksi membuyarkan lamunanku. Memutus syair Katon yang mengendap di kepala.
…Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja…
Shit! Meski telah beberapa kali menyambangi kota ini, tak jua ku hafal jalan-jalan yang melingkar di kota ini. Aku terus mengumpat dalam hati. Betapa cinta telah begitu membutakan mata dan hatiku hingga kubiarkan laki-laki seberang itu yang kerap menyetir dan mengarahkan ku saat kami kencan di kota ini.
“Turun aja di perempatan. Itu Jalan Kaliurang km 4. Nanti gue jemput di situ,” balas Fahri saat aku panik menelponnya.
Ku tunggu kedatangan Fahri di perempatan, seberang toko dan lab Fuji Film yang berpendar dengan cahaya neon. Sekelompok muda mudi mengurumi gerobak penjual gorengan.
Here I am. In Jogja with loveless…
II
Kos-kosan itu berbentuk bangunan bertingkat berbentuk L berkotak-kotak dengan kamar tidur yang dibatasi sebuah pintu dan jendela dan sebuah kamar mandi pada setiap sudutnya. Ada
Ini bukan bangunan kos-kosan satu-satunya. Letaknya yang berdekatan dengan kampus membuat daerah ini menjadi lahan subur bagi hunian para mahasiswa dan kaum perantauan yang masih ingin merasakan aura kemahasiswaannya. Dari lantai dua beranda kamar Fahri aku melihat beberapa bangunan bertingkat lain dengan kotak dan bentuk kamar yang beragam.
Persaingan tentu juga berdampak bagi harga sewa yang kompetitif. Kamar yang disewa Fahri ini berharga 150 ribu perbulan yang dibayar pertiga bulan. Aku sempat bertanya tentang pola pembayaran pertiga bulan yang saat ini tampak tengah tren di dunia per-kos-an kota ini. Jawaban yang memuaskan belum aku dapatkan.
“Kos cewek gue di seberang sana,” tunjuk Fahri pada bangunan bertingkat bercat kuning persis berhadapan dengan kamarnya.
“Ciee… Romantis banget lu, bisa curi pandang jarak jauh,” goda ku. Juga tambahan pujian atas penampilannya yang kian rapi dengan cukuran rambut pendek dan kamar yang tertata rapi.
Ia lalu sibuk dengan handphone-nya. Mencari penginapan untukku.
“Cewek gue gak bisa. Baru datang dari Bogor. Pengen istirahat katanya. Kosnya lagi rame,” kabarnya dengan mata yang tak beralih dari handphone di genggaman.
Ku biarkan ia terus sibuk sementara hp-ku tiba-tiba error tak bisa menerima dan membuat panggilan. But I’m not worry so much. Aku tiba-tiba merasa sangat letih hingga tak mampu lagi berlaku sesuatu yang menguras fikiranku. Termasuk memikirkan dimana aku akan tidur nanti.
***
Ku rebahkan badan pada tumpukan kasur yang tersusun di sudut kamar sambil mencoba menikmati siaran tv tunner versi Fahri yang di relay lewat monitor computer berlayar 14’ sementara ia pamit pergi menemani kekasihnya makan malam.
Dengan suara yang kadang tenggelam kuputar siaran debat para capres yang mempilkan RM009 (trademark yang diciptakan Rizal Mallarangeng atas pencalonannya menjadi presiden pada pemilu 2009 nanti), Fadjroel Rachman, Sukardi Rinakit, dan Ipang Wahid, tim kreatif yang biasa menangani iklan para calon pemimpin di media. Tayangan yang dihadirkan stasiun tv one ini juga menampilkan running text yang beberapa diantaranya mengabarkan kematian Syahrir dan rencana kepulangan jenazahnya dari rumah sakit di Singapura. Juga temuan baru polisi atas lubang yang memuat lima
Fahri lalu kembali dengan berita bahwa aku akan diinapkan di rumah pacar tetangga kos-nya saat ini. Sebelum pergi ke rumah yang aku tak tau dimana letaknya itu, ia mengantarku makan dan kami bertukar cerita pasca tak ketemunya kami selama hampir dua tahun ini (pertemuan terakhir yang aku ingat saat dia mencoba peruntungannya di Jakarta
“Nah, lu pasti balik ngerepotin gue lagi waktu cari kos nanti,” celetuknya saat ku ceritakan kemungkinan aku menjadi warga Jogja awal September nanti.
“Ya iyalah. What’s a friend for kalau bukan buat direpotin,” timpalku tanpa basa-basi. Sementara aku sendiri tak yakin dengan kepindahanku ke Jogja nanti.
***
Semangkuk sup dengan setangkup nasi dan teh tawar hangat kutandaskan sebelum keberangkatan kami menuju rumah Eta, pemilik rumah plus calon teman inapku nanti.
Ia gadis mungil dengan rambut bercat pirang yang langsung mengadu adanya makhluk aneh di kamar mandi saat kami datang. Aku, Fahri, dan Aan, laki-laki yang juga tampak mungil, pacar Eta cum tetangga kos Fahri. Dengan sigap Aan melibas seekor kepiting bertubuh cilik yang diadukan oleh Eta sebagai makhluk aneh yang tiba-tiba bersarang di kamar mandi. Obrolan yang mengisi waktu sebelum dua laki-laki itu kembali ke kos-nya lalu lebih berfokus pada aku si penghuni tumpangan baru. Sesekali dua sejoli yang masih menjadi mahasiswa tahun kedua UGM ini merapat sambil mengajukan pertanyaan tentang aku.
Aku lalu menempati satu dari empat ruang tidur yang tersedia dari rumah yang tampak belum lama dibangun di salah satu komplek perumahan di wilayah yang tak ku kenal ini. Rumah yang diaku Eta sebagai rumah orang tuanya dan ditempatinya seorang diri sementara orang tuanya memilih tinggal di Solo.
Aku lelah. Tapi tak bisa tidur. Malam itu di kamar yang masih tercium bau rumah baru aku tandaskan membaca “Indopahit”, buku souvenir perkawinan Andreas Harsono dan Sapariah Saturi yang aku pinjam dari Fahri (aku luput menghadiri acara mereka dan tak mendapatkan buku berdesain dan lay out tempo doeloe itu. Tulisan Indar, eks kontributor Pantau yang kini mengepalai WWF wilayah Sulawesi Tenggara dan rumah kos-nya juga sempat aku inapi saat aku ke Kendari tempo lalu, mengesankanku. Ia mengurai makna perkawinan dengan rumah tangga orang tuanya sebagai latar).
Majalah Tempo edisi minggu ini dengan tampilan Ryan, sang pembunuh berantai asal Jombang sebagai cover story yang sengaja aku bawa dari Jakarta (dengan Fahri, aku sempat membincangkan kemungkinan bagusnya kisah Ryan ini ditulis atau dibuat film seperti “In Cold Blood”-nya Truman Capote. Meski, omong-omong soal film Capote, aku lebih suka kisah yang dituangkan dalam “Infamous” ketimbang “Capote” yang dimainkan oleh Philip Seymour Hoffman walau yang terakhir ini berganjar piala Oscar) juga menjadi teman tak bisa tidurku sampai azan subuh kudengar berseru-seru lewat pengeras suara.
III
Aku putuskan untuk menghabiskan waktu di Malioboro pasca wawancara dengan Tim UGM yang sumpah mati tak meningkatkan sedikitpun adrenalinku untuk mengetahui apakah aku merupakan kandidat yang lulus seleksi atau tidak. Aku pernah mengambil studi master sebelumnya dan aku tau hal ini akan ditanyakan oleh Tim UGM nantinya. Aku jawab semuanya tanpa beban. Termasuk keinginan ideal plus platonisku yang sesungguhnya untuk mendapatkan beasiswa studi di luar negeri yang tak kunjung kudapatkan hingga kini. Dengan nilai TOEFL yang masih di bawah standard aku pun tak berniat untuk mengira-ngira apakah itu akan menjadi nilai plus atau minus yang akan memberatkan lamaranku.
Baru selesai wawancara. Rencana ke Malio sekarang. Just let me know if u’re free then.
Layangku pada sandek yang ku kirim ke Fahri. Aku berniat ke Ulen Sentanu, museum yang beberapa kali diperbincangkan penghuni milis sejarah atau kembali menengok keraton pasca gempa bila waktunya memungkinkan (meski kerap mengaku pengangguran aku berusaha menghormati waktu yang tak bisa disediakan Fahri untuk menemaniku).
***
Kususuri koridor yang memanjang di kanan kiri Jalan Malioboro. Berharap bisa mendapatkan sabuk yang akan kupasangkan dengan sebuah dress batik yang telah dijahitkan adikku dan kuniatkan akan kugunakan pada resepsi Rita Olivia Tambunan, teman eks kantorku Kamis minggu ini. tapi barang-barang yang memadati koridor ini tak satupun ada yang menarik minatku. Termasuk batik-batik yang berseliweran di sana sini dan tengah menjadi tren berbusana saat ini.
Wilayah ini tak pernah sepi. Koridor selalu padat pengunjung. Dengan turis lokal dan bule-bule yang rajin berpose dan mengambil gambar. Rasa aneh sempat melintas saat beberapa orang lokal tampak berlaku seperti turis di wilayah ini. Berpose dengan gaya pakaian a la plesiran. (Hah, bukan kah aku juga bagian dari mereka? Tidak sama norak kah aku saat ini?) Beberapa menawar barang dan tampak kelelahan dengan tas belanjaan yang menggunung. Aku, sekali lagi, tak tertarik dengan ragam barang yang ditawarkan. Barang-barang bermutu rendah dengan harga jual yang cukup tinggi. Membuat aku enggan menguras energi dan fikiran menawar barang-barang ini. Rasanya masih lebih enak belanja di Jakarta.
Rasa lelah kembali menyergap berbarengan dengan sandek Fahri yang menanyakan dimana keberadaan ku. Aku lalu minta dijemput dan diantar untuk mencari tiket. Hari menjelang sore dan aku berniat kembali ke Jakarta malam ini.
Peristiwa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaanku.
***
Aku pernah bersumpah untuk tak akan lagi menggunakan kereta api kelas bisnis (meski, nama Senja Utama ini sesungguhnya agak romantis juga. Mengingatkan kesukaanku pada perburuan sunset saat travelling).
Menurutku, kalau kau tak lagi menghargai dirimu sendiri naiklah kereta api kelas bisnis (apalagi ekonomi) di Jawa. Kau tak perlu antri beli tiket. Sepertiga atau seperempat uang dari harga tiket bisa kau berikan langsung pada petugas pemeriksa tiket di gerbong nanti. Dan kalau kau beruntung, cukup bermodal koran yang bisa kau gelar di ruang yang bisa kau kuasai di gerbong nanti, kau bisa merebahkan punggung. Tak peduli itu di depan pintu toilet atau diatas sambungan antar gerbong dan menjadi aral lalu lalang penumpang atau penjaja barang diatas gerbong. Kau juga bisa membentuk atau menjadi anggota sindikat para penumpang gelap ini. Para penumpang yang pernah aku bayangkan bernyawa tanpa makna dan tak bernama bila suatu waktu terjadi kecelakaan dan data yang terpampang kemudian sangat sangat tidak akurat.
Tapi Ami, perempuan mungil asal Ambarawa, teman kantorku, dan kerap PP Jakarta-Jogja di saat weekend, berkata sebaliknya: kalau kau ingin mengetahui the real life, naiklah kereta api non eksekutif. Akan kau temukan banyak kisah di dalamnya.
Nyatanya, kondisi kali ini memaksa aku untuk menelan sumpah ku sendiri. Dan aku telah siap dengan kondisi paling buruk yang akan ku temui nanti.
IV
Setimbun nasi yang hampir memenuhi piring, sepotong bandeng presto berteman tumisan daun pepaya dan siraman kuah sayur bayam bening kuhabiskan sebagai menu makan siang yang baru saja usai kulakukan di hari yang telah masuk sore itu. Bersama Fahri, aku kembali ke kosnya untuk mengisi waktu menunggu keberangkatanku petang nanti.
Aku lelah. Ngantuk. Tak ingin kemana-mana lagi. Di kos Fahri kembali kunikmati siaran tv tak tentu arah sambil merebahkan diri. Sementara Fahri bercengkrama dengan para tetangga kos yang kebanyakan laki-laki sambil minum kopi.
Dengan asumsi kereta yang tak akan tepat waktu, aku berangkat mepet waktu diantar Fahri. Tak lagi sempat membeli bekal makan (aku sempat berencana membungkus seporsi sate sebagai bahan pengisi perut di kereta nanti) kami bergegas menuju stasiun. Tak sempat pula terlintas fikiran kemungkinan buruk menyangkut keberangkatanku nanti. Meski, di tengah jalan, beberapa kali sepeda motor yang di kendarai Fahri kerap berhenti tanpa ku ketahui sebab yang pasti. Dan aku urung membeli perbekalan untuk untuk teman perjalananku nanti.
***
Berjarak 400 meter memasuki area parkir stasiun, mesin motor benar-benar mati. Aku turun berjalan kaki sementara Fahri tetap mengendarai motor tanpa mesin. Tiba-tiba lonceng kereta yang memberitahukan keberangkatan kereta Senja berseru memanggil-manggil sementara kami belum tanak mendapatkan parkir bagi sepeda motor yang mati.
Fahri panik. Sementara aku tetap berusaha untuk tenang. Ia meyuruh ku bergegas. Tas punggung yang kubawa diambil alihnya. Aku berlari dibelakangnya. Tak ku ingat lagi dimana ia menaruh sepeda motornya. Kami berkejaran di tengah ulangan seruan pemberitahuan kereta yang akan segera berangkat. Bersama satu dua penumpang lain yang juga tampak ketinggalan kereta.
Lari mengejar Senja.
V
Salah satu dari misteri sebuah perjalanan yang kau lakukan seorang diri adalah dengan siapa kau akan betemu nanti. Kadang aku menikmati misteri ini. Bertukar cerita dengan teman seperjalanan yang baru saja kita kenal. Meski kadang lebih banyak aku yang mendengarkan atau bertanya mengorek lebih jauh pengalaman yang ia telah lakukan. Bisa pula berlaku sebaliknya. Saling diam atau memilih menyibukkan diri bila teman yang kita dapati tak terlalu menggairahkan atau malah menjadi gangguan.
Memasuki gerbong dengan peluh menderas, aku sempat surprise mendapati kenyataan yang lagi-lagi diluar dugaanku. Tak kutemui para penumpang bergeletakan memenuhi koridor gerbong kereta. Semua duduk di kursi-nya masing-masing. Aku sendiri duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki berperawakan sedang yang aku taksir berusia 3-5 tahun diatas ku. Dibarisan paling akhir dari gerbong bernomor urut empat.
Aku tak pernah khawatir sendirian dalam perjalanan. Tapi kasus Ryan baru-baru ini sedikit banyak mempengaruhiku untuk bersikap terhadap orang yang baru ku kenal. Sempat ku tanggapi seadanya keramahan laki-laki di sebelahku. Bersiap terhadap segala kemungkinan.
***
Nyatanya ia laki-laki yang menyenangkan. Mempersilahkanku menukar posisi duduk dengannya agar aku terhindar dari lalu lalang orang yang berjalan di lorong gerbong. Meminjamkan Harian Jogja yang telah tandas ditangannya dan membayar harga bantal yang semula sama-sama kami kira sebagai complement dari kereta.
Kami bertukar cerita. Saling bertanya. Mengisi perjalanan dengan obrolan. Kasus Ryan (lagi), ruwetnya persoalan bangsa (dan perbandingannya dengan negara tetangga), sampai hal-hal personal (ia sempat mengeluhkan rasa ngilu di tulang belakang. Akibat melakukan olah raga tanpa pemanasan. Juga topi kupluk yang segera dikenakan untuk menahan hembusan angin malam di kepala).
Para penjaja asongan sibuk menjajakan dagangannya. Berselang seling dengan petugas kereta yang juga menawarkan menu yang tak mengundang selera dan petugas tiket yang datang melubangi tiket penumpang.
Aku sempat mengungkapkan keherananku atas fenomena duduk manisnya para penumpang gerbong yang baru kali ini kutemui yang ditanggapinya dengan kabar pembenahan manajeman yang tengah dilakukan kereta api meski biasa berjalan hangat-hangat tahi ayam. Juga berita ditemukannya serangkaian bom molotov di bawah gerbong kereta api Cirebon Express yang kusaksikan sore menjelang keberangkatan dari kos Fahri dan sempat membuatku was-was.
Sebuah paradox dalam jasa angkutan publik di negeri ini.
***
Dalam suasana riuh lalu lalang penjaja asongan di dalam gerbong yang terus berlangsung hingga dini hari, pengamen dan penjaja pelayan kebersihan yang minta bayaran, panasnya pantat karena bentuk dan desain kursi yang memang dirancang secara tidak nyaman, rasa penat yang tak bisa ku tuntaskan, dan suara obrolan pasangan lain di barisan depan yang tampak enggan menghabiskan waktu perjalanan dalam lelap, aku tampak terhanyut dalam misteri perjalananku kini.
Kisah senja dengan sejuta cerita.
Tak ku ingat berapa banyak stasiun yang disinggahi kereta ini sepanjang perjalanan. Kepalaku sempat terantuk pinggiran jendela yang keras saat aku tak mampu berjaga. Sesekali ku lirik teman seperjalananku yang tak juga berani kutanyakan apa statusnya kini.
Seorang laki-laki beranonim. Berjaket hitam, celana jeans, sepatu kulit casual. Berlaku santun dan tampak tak berupaya mencari-cari kesempatan atas kelengahanku. Tak segan mengeluarkan recehan pada para pengamen dan penjaja service yang mencari peruntungan. Dan tak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan bahwa ia seorang perokok (satu perilaku yang kerap aku idamkan dari laki-laki yang mengaku paling jantan sekalipun).
Kubiarkan rasa penasaran itu berkembang hingga aku tiba di Stasiun Pasar Senen. Dalam sahutan lantuanan ayat suci pengantar Subuh pada pengeras suara. Meninggalkan laki-laki tak bernama yang entah kapan akan kutemui lagi.***
Jogja-Jakarta, Juli Akhir, 2008





Recent Comments