August 01, 2008

Mengejar Senja

Di_ujung_senja_2_2

Ada

rasa haru yang tiba-tiba menyergap saat taksi bandara yang aku tumpangi melewati beberapa landmark yang mengingatkanku pada kisah jarak jauh yang sempat ku jalani dengan seorang laki-laki asal seberang saat ia tengah mengambil studi di

kota

ini.
Mengingatkan ku pada lagu Katon Bagaskara yang monumental itu. Bertahun silam.

Pulang ke kota mu, ada setangkup haru dalam rindu…

Sebelum aku memutuskan mengambil perjalanan ini seorang diri, telah kusiapkan mental untuk tak lagi menanggapi romantisme usang itu. Pasca perpisahan kami yang tak berakhir dengan baik aku sudah beberapa kali mengunjungi kota ini. Dan perasaan termehek-mehek itu terbukti mampu aku redam. Mungkin karena beberapa kunjungan itu berlangsung sangat singkat. Kerap aku datang pagi lalu segera kembali terbang petang harinya. Mungkin juga karena aku tak berangkat sendiri. Hingga tak sempat menanggapi rasa manja pada kenangan masa lalu.     

Ini kali aku datang demi menutup serangkaian acara prosedural seleksi penerima beasiswa studi lanjutan di UGM yang terus aku tunda pemenuhannya. Aku sempat berhitung untuk tak terlalu menghambur uang demi pemenuhan acara ini. Telah hampir satu juta uang kuhabiskan demi membayar biaya pendaftaran, tes TOEFL yang sejak awal dan akhir terus aku umpat baik dalam proses dan hasilnya, serta tambahan biaya administrasi tiket keberangkatan yang semula bisa kuharap bisa didapatkan secara gratis dari Garuda (dengan sejumlah poin yang cukup untuk mendapatkan tiket Jakarta-jogja, aku masih dikenakan biaya pembelian minyak dan pajak yang harganya melebihi sebuah tiket kereta api eksekutif dalam peak season sekalipun).

Meski aku juga tak ingin berlaku seperti seorang businessman yang harus tergesa meninggalkan kota ini. Aku ingin memenuhi klangenanku pada kota ini.

…Walau kini kau tlah tiada, tak kembali, namun kota mu hadirkan senyum mu abadi Ijinkanlah aku untuk selalu pulang lagi, bila hati mulai sepi tanpa terobati…

***

Aku hubungi beberapa teman yang ku kenal demi mendapat tumpangan penginapan. Ada Fahri, laki-laki jangkung yang aku kenal lewat kelas Jurnalisme Sastrawi Pantau, tiga tahun silam. Evi, perempuan asal Ponorogo yang aku kenal lewat sebuah acara lomba penulisan yang diselenggarakan oleh CRCS UGM empat tahun silam (sebelum ini, aku sempat beberapa kali menginap di kos-nya saat statusnya belum berubah lewat beberapa kabar singkat yang mengabarkan ia menikah dan tengah berbadan dua). Juga Jaya Ginting, laki-laki Batak yang tampak memilih meniti karir pasca studi lanjutannya di kota ini. Aku mengenalnya lewat hubungan pertemanan tetangga kos ku di Menteng saat ini.

Kontak intensku kemudian lebih berfokus pada Fahri. Karena saat ku layangkan pesan singkat pada nomor Evi, sebuah balasan dari nomor lain muncul.

Maaf ini siapa ya? Nomor yang dihub barusan milik konsumen yang lagi servis hp lupa gak diambil. Makasih. Dealer Samsung.

Juga Jaya Ginting, kalau malam ini ok, besok aku ke Jakarta.

Maka aku janji bertemu dengan Fahri setiba ku di landasan kota ini. Di perempatan jalan MM UGM yang diaku Fahri dekat dengan kosnya.

Sebenarnya binun nih, ntar lu ditaro dimana ya? Tapi ketemu aja dulu. Nanti kabari kalau dah sampe ya?

Tulis Fahri saat aku masih menunggu pesawat di Jakarta.

Oks, ketemuan aja dulu. Tempat bisa dicari nanti. Begitu liat gue nantu lu juga langsung dapat ide, balasku

***

“Perempatannya arah mana, mbak?” tanya supir taksi membuyarkan lamunanku. Memutus syair Katon yang mengendap di kepala.

…Terhanyut aku akan nostalgia, saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama suasana Jogja… 

Shit! Meski telah beberapa kali menyambangi kota ini, tak jua ku hafal jalan-jalan yang melingkar di kota ini. Aku terus mengumpat dalam hati. Betapa cinta telah begitu membutakan mata dan hatiku hingga kubiarkan laki-laki seberang itu yang kerap menyetir dan mengarahkan ku saat kami kencan di kota ini.

“Turun aja di perempatan. Itu Jalan Kaliurang km 4. Nanti gue jemput di situ,” balas Fahri saat aku panik menelponnya.

Ku tunggu kedatangan Fahri di perempatan, seberang toko dan lab Fuji Film yang berpendar dengan cahaya neon. Sekelompok muda mudi mengurumi gerobak penjual gorengan.

Here I am. In Jogja with loveless…

II

Kos-kosan itu berbentuk bangunan bertingkat berbentuk L berkotak-kotak dengan kamar tidur yang dibatasi sebuah pintu dan jendela dan sebuah kamar mandi pada setiap sudutnya.

Ada

halaman parkir yang cukup luas. Kutemui secarik kertas berisi pengumuman pada salah satu tiangnya. Bukan pengumuman yang memajang maklumat klise yang melarang penghuninya pulang larut atau membawa teman lawan jenis ke dalam kamar. Melainkan pemberitahuan untuk memelankan laju kendaraan diatas jam sepuluh malam. Termasuk mematikan mesin bagi sepeda motor yang telah dimodifikasi dengan knalpot diistilahkan berglondongan. Ditutup dengan kalimat: YANG NGEBUT MALING.  

Ini bukan bangunan kos-kosan satu-satunya. Letaknya yang berdekatan dengan kampus membuat daerah ini menjadi lahan subur bagi hunian para mahasiswa dan kaum perantauan yang masih ingin merasakan aura kemahasiswaannya. Dari lantai dua beranda kamar Fahri aku melihat beberapa bangunan bertingkat lain dengan kotak dan bentuk kamar yang beragam.

Persaingan tentu juga berdampak bagi harga sewa yang kompetitif. Kamar yang disewa Fahri ini berharga 150 ribu perbulan yang dibayar pertiga bulan. Aku sempat bertanya tentang pola pembayaran pertiga bulan yang saat ini tampak tengah tren di dunia per-kos-an kota ini. Jawaban yang memuaskan belum aku dapatkan.    

“Kos cewek gue di seberang sana,” tunjuk Fahri pada bangunan bertingkat bercat kuning persis berhadapan dengan kamarnya.

Ciee… Romantis banget lu, bisa curi pandang jarak jauh,” goda ku. Juga tambahan pujian atas penampilannya yang kian rapi dengan cukuran rambut pendek dan kamar yang tertata rapi.

Ia lalu sibuk dengan handphone-nya. Mencari  penginapan untukku.   

“Cewek gue gak bisa. Baru datang dari Bogor. Pengen istirahat katanya. Kosnya lagi rame,” kabarnya dengan mata yang tak beralih dari handphone di genggaman. 

Ku biarkan ia terus sibuk sementara hp-ku tiba-tiba error tak bisa menerima dan membuat panggilan. But I’m not worry so much. Aku tiba-tiba merasa sangat letih hingga tak mampu lagi berlaku sesuatu yang menguras fikiranku. Termasuk memikirkan dimana aku akan tidur nanti.

***

Ku rebahkan badan pada tumpukan kasur yang tersusun di sudut kamar sambil mencoba menikmati  siaran tv tunner versi Fahri yang di relay lewat monitor computer berlayar 14’ sementara ia pamit pergi menemani kekasihnya makan malam.

Dengan suara yang kadang tenggelam kuputar siaran debat para capres yang mempilkan RM009 (trademark yang diciptakan Rizal Mallarangeng atas pencalonannya menjadi presiden pada pemilu 2009 nanti), Fadjroel Rachman, Sukardi Rinakit, dan Ipang Wahid, tim kreatif yang biasa menangani iklan para calon pemimpin di media. Tayangan yang dihadirkan stasiun tv one ini juga menampilkan running text yang beberapa diantaranya mengabarkan kematian Syahrir dan rencana kepulangan jenazahnya dari rumah sakit di Singapura. Juga temuan baru polisi atas lubang yang memuat

lima

mayat lain korban pembunuhan Very Idam Henyansyah alias Ryan yang tengah menjadi berita paling popular saat ini.

Fahri lalu kembali dengan berita bahwa aku akan diinapkan di rumah pacar tetangga kos-nya saat ini. Sebelum pergi ke rumah yang aku tak tau dimana letaknya itu, ia mengantarku makan dan kami bertukar cerita pasca tak ketemunya kami selama hampir dua tahun ini (pertemuan terakhir yang aku ingat saat dia mencoba peruntungannya di

Jakarta

satu atau dua tahun yang lalu. Ia bergabung dengan koloni Taufik Rahzen dalam lembaga dan media antah berantah berkantor di kawasan elit, Jalan Veteran Jakarta. Saat itu aku bersama Popon --kawan kami yang lain yang juga kerap aku kontak sebagai teman hunting di Jogja namun kini telah hijrah ke Jakarta dan tampak betah dengan pekerjaannya sebagai jurnalis di hukumonline-- sempat mencicipi es krim Ragusa yang tersohor itu dengan harga diskon atas nama pertetanggaan. Kami juga sempat melancong ke Monas untuk menikmati air mancur joged yang saat itu belum lama diluncurkan oleh Sutiyoso. Walau aku sempat lihat Fahri yang tertidur di tengah-tengah pertunjukan).

“Nah, lu pasti balik ngerepotin gue lagi waktu cari kos nanti,” celetuknya saat ku ceritakan kemungkinan aku menjadi warga Jogja awal September nanti.

“Ya iyalah. What’s a friend for kalau bukan buat direpotin,” timpalku tanpa basa-basi. Sementara aku sendiri tak yakin dengan kepindahanku ke Jogja nanti.

***

Semangkuk sup dengan setangkup nasi dan teh tawar hangat kutandaskan sebelum keberangkatan kami menuju rumah Eta, pemilik rumah plus calon teman inapku nanti.

Ia gadis mungil dengan rambut bercat pirang yang langsung mengadu adanya makhluk aneh di kamar mandi saat kami datang. Aku, Fahri, dan Aan, laki-laki yang juga tampak mungil, pacar Eta cum tetangga kos Fahri. Dengan sigap Aan melibas seekor kepiting bertubuh cilik yang diadukan oleh Eta sebagai makhluk aneh yang tiba-tiba bersarang di kamar mandi. Obrolan yang mengisi waktu sebelum dua laki-laki itu kembali ke kos-nya lalu lebih berfokus pada aku si penghuni tumpangan baru. Sesekali dua sejoli yang masih menjadi mahasiswa tahun kedua UGM ini merapat sambil mengajukan pertanyaan tentang aku.

Aku lalu menempati satu dari empat ruang tidur yang tersedia dari rumah yang tampak belum lama dibangun di salah satu komplek perumahan di wilayah yang tak ku kenal ini. Rumah yang diaku Eta sebagai rumah orang tuanya dan ditempatinya seorang diri sementara orang tuanya memilih tinggal di Solo.                 

Aku lelah. Tapi tak bisa tidur. Malam itu di kamar yang masih tercium bau rumah baru aku tandaskan membaca “Indopahit”, buku souvenir perkawinan Andreas Harsono dan Sapariah Saturi yang aku pinjam dari Fahri (aku luput menghadiri acara mereka dan tak mendapatkan buku berdesain dan lay out tempo doeloe itu. Tulisan Indar, eks kontributor Pantau yang kini mengepalai WWF wilayah Sulawesi Tenggara dan rumah kos-nya juga sempat aku inapi saat aku ke Kendari tempo lalu, mengesankanku. Ia mengurai  makna perkawinan dengan rumah tangga orang tuanya sebagai latar).

Majalah Tempo edisi minggu ini dengan tampilan Ryan, sang pembunuh berantai asal Jombang sebagai cover story yang sengaja aku bawa dari Jakarta (dengan Fahri, aku sempat membincangkan kemungkinan bagusnya kisah Ryan ini ditulis atau dibuat film seperti “In Cold Blood”-nya Truman Capote. Meski, omong-omong soal film Capote, aku lebih suka kisah yang dituangkan dalam “Infamous” ketimbang “Capote” yang dimainkan oleh Philip Seymour Hoffman walau yang terakhir ini berganjar piala Oscar) juga menjadi teman tak bisa tidurku sampai azan subuh kudengar berseru-seru lewat pengeras suara.

III

Aku putuskan untuk menghabiskan waktu di Malioboro pasca wawancara dengan Tim UGM yang sumpah mati tak meningkatkan sedikitpun adrenalinku untuk mengetahui apakah aku merupakan kandidat yang lulus seleksi atau tidak. Aku pernah mengambil studi master sebelumnya dan aku tau hal ini akan ditanyakan oleh Tim UGM nantinya. Aku jawab semuanya tanpa beban. Termasuk keinginan ideal plus platonisku yang sesungguhnya untuk mendapatkan beasiswa studi di luar negeri yang tak kunjung kudapatkan hingga kini. Dengan nilai TOEFL yang masih di bawah standard aku pun tak berniat untuk mengira-ngira apakah itu akan menjadi nilai plus atau minus yang akan memberatkan lamaranku.

Baru selesai wawancara. Rencana ke Malio sekarang. Just let me know if u’re free then. 

Layangku pada sandek yang ku kirim ke Fahri. Aku berniat ke Ulen Sentanu, museum yang beberapa kali diperbincangkan penghuni milis sejarah atau kembali menengok keraton pasca gempa bila waktunya memungkinkan (meski kerap mengaku pengangguran aku berusaha menghormati waktu yang tak bisa disediakan Fahri untuk menemaniku). 

***

Kususuri koridor yang memanjang di kanan kiri Jalan Malioboro. Berharap bisa mendapatkan sabuk yang akan kupasangkan dengan sebuah dress batik yang telah dijahitkan adikku dan kuniatkan akan kugunakan pada resepsi Rita Olivia Tambunan, teman eks kantorku Kamis minggu ini. tapi barang-barang yang memadati koridor ini tak satupun ada yang menarik minatku. Termasuk batik-batik yang berseliweran di sana sini dan tengah menjadi tren berbusana saat ini.

Wilayah ini tak pernah sepi. Koridor selalu padat pengunjung. Dengan turis lokal dan bule-bule yang rajin berpose dan mengambil gambar. Rasa aneh sempat melintas saat beberapa orang lokal tampak berlaku seperti turis di wilayah ini. Berpose dengan gaya pakaian a la plesiran. (Hah, bukan kah aku juga bagian dari mereka? Tidak sama norak kah aku saat ini?) Beberapa menawar barang dan tampak kelelahan dengan tas belanjaan yang menggunung. Aku, sekali lagi, tak tertarik dengan ragam barang yang ditawarkan. Barang-barang bermutu rendah dengan harga jual yang cukup tinggi. Membuat aku enggan menguras energi dan fikiran menawar barang-barang ini. Rasanya masih lebih enak belanja di Jakarta.

Rasa lelah kembali menyergap berbarengan dengan sandek Fahri yang menanyakan dimana keberadaan ku. Aku lalu minta dijemput dan diantar untuk mencari tiket. Hari menjelang sore dan aku berniat kembali ke Jakarta malam ini.

Peristiwa yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaanku.

Aku tiba di ruang pemesanan tiket kereta api yang telah penuh sesak. Dengan giliran nomor antrian yang berselisih sampai 200-an nomor dan informasi tiket yang telah habis untuk malam ini juga besok pagi. Besok memang hari libur nasional. Dan ini kerap menjadi ajang panen perusahaan transportasi public dengan membludaknya penumpang. Tak ingin berputus asa mendapatkan tiket, bersama Fahri ku arahkan pencarian tiket ke loket tiket penjualan langsung yang berjarak sekitar 200 meter. Inilah yang kemudian aku dapatkan setelah antri hampir 20 menit; sebuah tiket untuk kelas bisnis bertarif 100,000,- KA Senja Utama YK, Jogjakarta-Pasar Senen, 29 Juli 2008, 18.30 WIB.

***

Aku pernah bersumpah untuk tak akan lagi menggunakan kereta api kelas bisnis (meski, nama Senja Utama ini sesungguhnya agak romantis juga. Mengingatkan kesukaanku pada perburuan sunset saat travelling).

Menurutku, kalau kau tak lagi menghargai dirimu sendiri naiklah kereta api kelas bisnis (apalagi ekonomi) di Jawa. Kau tak perlu antri beli tiket. Sepertiga atau seperempat uang dari harga tiket bisa kau berikan langsung pada petugas pemeriksa tiket di gerbong nanti. Dan kalau kau beruntung,  cukup bermodal koran yang bisa kau gelar di ruang yang bisa kau kuasai di gerbong nanti, kau bisa merebahkan punggung. Tak peduli itu di depan pintu toilet atau diatas sambungan antar gerbong dan menjadi aral lalu lalang penumpang atau penjaja barang diatas gerbong. Kau juga bisa membentuk atau menjadi anggota sindikat para penumpang gelap ini. Para penumpang yang pernah aku bayangkan bernyawa tanpa makna dan tak bernama bila suatu waktu terjadi kecelakaan dan data yang terpampang kemudian sangat sangat tidak akurat. 

Tapi Ami, perempuan mungil asal Ambarawa, teman kantorku, dan kerap PP Jakarta-Jogja di saat weekend, berkata sebaliknya: kalau kau ingin mengetahui the real life, naiklah kereta api non eksekutif. Akan kau temukan banyak kisah di dalamnya. 

Nyatanya, kondisi kali ini memaksa aku untuk menelan sumpah ku sendiri. Dan aku telah siap dengan kondisi paling buruk yang akan ku temui nanti.

IV

Setimbun nasi yang hampir memenuhi piring, sepotong bandeng presto berteman tumisan daun pepaya dan siraman kuah sayur bayam bening kuhabiskan sebagai menu makan siang yang baru saja usai kulakukan di hari yang telah masuk sore itu. Bersama Fahri, aku kembali ke kosnya untuk mengisi waktu menunggu keberangkatanku petang nanti.

Aku lelah. Ngantuk. Tak ingin kemana-mana lagi. Di kos Fahri kembali kunikmati siaran tv tak tentu arah sambil merebahkan diri. Sementara Fahri bercengkrama dengan para tetangga kos yang kebanyakan laki-laki sambil minum kopi.

Dengan asumsi kereta yang tak akan tepat waktu, aku berangkat mepet waktu diantar Fahri. Tak lagi sempat membeli bekal makan (aku sempat berencana membungkus seporsi sate sebagai bahan pengisi perut di kereta nanti) kami bergegas menuju stasiun. Tak sempat pula terlintas fikiran kemungkinan buruk menyangkut keberangkatanku nanti. Meski, di tengah jalan, beberapa kali sepeda motor yang di kendarai Fahri kerap berhenti tanpa ku ketahui sebab yang pasti. Dan aku urung membeli perbekalan untuk untuk teman perjalananku nanti.

***

Berjarak 400 meter memasuki area parkir stasiun, mesin motor benar-benar mati. Aku turun berjalan kaki sementara Fahri tetap mengendarai motor tanpa mesin. Tiba-tiba lonceng kereta yang memberitahukan keberangkatan kereta Senja berseru memanggil-manggil sementara kami belum tanak mendapatkan parkir bagi sepeda motor yang mati.

Fahri panik. Sementara aku tetap berusaha untuk tenang. Ia meyuruh ku bergegas. Tas punggung yang kubawa diambil alihnya. Aku berlari dibelakangnya. Tak ku ingat lagi dimana ia menaruh sepeda motornya. Kami berkejaran di tengah ulangan seruan pemberitahuan kereta yang akan segera berangkat. Bersama satu dua penumpang lain yang juga tampak ketinggalan kereta.

Lari mengejar Senja.

V

Salah satu dari misteri sebuah perjalanan yang kau lakukan seorang diri adalah dengan siapa kau akan betemu nanti. Kadang aku menikmati misteri ini. Bertukar cerita dengan teman seperjalanan yang baru saja kita kenal. Meski kadang lebih banyak aku yang mendengarkan atau bertanya mengorek lebih jauh pengalaman yang ia telah lakukan. Bisa pula berlaku sebaliknya. Saling diam atau memilih menyibukkan diri bila teman yang kita dapati tak terlalu menggairahkan atau malah menjadi gangguan.   

Memasuki gerbong dengan peluh menderas, aku sempat surprise mendapati kenyataan yang lagi-lagi diluar dugaanku. Tak kutemui para penumpang bergeletakan memenuhi koridor gerbong kereta. Semua duduk di kursi-nya masing-masing. Aku sendiri duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki berperawakan sedang yang aku taksir berusia 3-5 tahun diatas ku. Dibarisan paling akhir dari gerbong bernomor urut empat.

Aku tak pernah khawatir sendirian dalam perjalanan. Tapi kasus Ryan baru-baru ini sedikit banyak mempengaruhiku untuk bersikap terhadap orang yang baru ku kenal. Sempat ku tanggapi seadanya keramahan laki-laki di sebelahku. Bersiap terhadap segala kemungkinan.

***

Nyatanya ia laki-laki yang menyenangkan. Mempersilahkanku menukar posisi duduk dengannya agar aku terhindar dari lalu lalang orang yang berjalan di lorong gerbong. Meminjamkan Harian Jogja yang telah tandas ditangannya dan membayar harga bantal yang semula sama-sama kami kira sebagai complement dari kereta.

Kami bertukar cerita. Saling bertanya. Mengisi perjalanan dengan obrolan. Kasus Ryan (lagi), ruwetnya persoalan bangsa (dan perbandingannya dengan negara tetangga), sampai hal-hal personal (ia sempat mengeluhkan rasa ngilu di tulang belakang. Akibat melakukan olah raga tanpa pemanasan. Juga topi kupluk yang segera dikenakan untuk menahan hembusan angin malam di kepala).

Para penjaja asongan sibuk menjajakan dagangannya. Berselang seling dengan petugas kereta yang juga menawarkan menu yang tak mengundang selera dan petugas tiket yang datang melubangi tiket penumpang.

Aku sempat mengungkapkan keherananku atas fenomena duduk manisnya para penumpang gerbong yang baru kali ini kutemui yang ditanggapinya dengan kabar pembenahan manajeman yang tengah dilakukan kereta api meski biasa berjalan hangat-hangat tahi ayam. Juga berita ditemukannya serangkaian bom molotov di bawah gerbong kereta api Cirebon Express yang kusaksikan sore menjelang keberangkatan dari kos Fahri dan sempat membuatku was-was.

Sebuah paradox dalam jasa angkutan publik di negeri ini.

***

Dalam suasana riuh lalu lalang penjaja asongan di dalam gerbong yang terus berlangsung hingga dini hari, pengamen dan penjaja pelayan kebersihan yang minta bayaran, panasnya pantat karena bentuk dan desain kursi yang memang dirancang secara tidak nyaman, rasa penat yang tak bisa ku tuntaskan, dan suara obrolan pasangan lain di barisan depan yang tampak enggan menghabiskan waktu perjalanan dalam lelap, aku tampak terhanyut dalam misteri perjalananku kini.

Kisah senja dengan sejuta cerita.

Tak ku ingat berapa banyak stasiun yang disinggahi kereta ini sepanjang perjalanan. Kepalaku sempat terantuk pinggiran jendela yang keras saat aku tak mampu berjaga. Sesekali ku lirik teman seperjalananku yang tak juga berani kutanyakan apa statusnya kini.

Seorang laki-laki beranonim. Berjaket hitam, celana jeans, sepatu kulit casual. Berlaku santun dan tampak tak berupaya mencari-cari kesempatan atas kelengahanku. Tak segan mengeluarkan recehan pada para pengamen dan penjaja service yang mencari peruntungan. Dan tak menunjukkan tanda-tanda kegelisahan bahwa ia seorang perokok (satu perilaku yang kerap aku idamkan dari laki-laki yang mengaku paling jantan sekalipun).     

Kubiarkan rasa penasaran itu berkembang hingga aku tiba di Stasiun Pasar Senen. Dalam sahutan lantuanan ayat suci pengantar Subuh pada pengeras suara. Meninggalkan laki-laki tak bernama yang entah kapan akan kutemui lagi.***

Jogja-Jakarta, Juli Akhir, 2008
                            

May 18, 2007

Pak Tobirin

Banyak yang tak mengenal nama aslinya. Sama halnya dengan saya. Meski kami sempat berbincang banyak dalam waktu yang tak lama.

Saya mengenalnya pada detik terakhir saat kami memutuskan kembali ke Jakarta, Selasa, 6 Desember tahun lalu. Kami mampir ke rumah Pak Nasikun, Guru Besar Sosiologi UGM, di Jalan Prawiro Kuat, Condong Catur, Sleman, Jogjakarta. Di jalan ini pula terletak kampus UII untuk Fakultas Ekonomi. Kalau kita keluar sedikit pada ujung jalan ini akan bertemu pada ringroad utara yang di seberangnya juga terletak kampus UPN atau yang sering disebut juga dengan kampus veteran.

Kami singgah sejenak di rumah Pak Nasikun sebelum bertolak ke bandara sore itu dengan tujuan yang beragam. Sekedar transit sebelum bertolak ke bandara, atau menjadi tempat singgah sementara sebelum melanjutkan ke perjalanan selanjutnya karena beberapa dari kami ada juga yang memutuskan untuk tak langsung kembali ke Jakarta sore itu, atau sekedar sowan ke rumah seorang profesor yang kebetulan juga menjadi salah satu pengurus lembaga kami plus ketua pelaksana acara yang baru saja usai kami ikuti.

Oh ya, kami baru saja selesai mengikuti sebuah kursus pendek selama 10 hari di USC Satu Nama Sleman (yang ini benar-benar Sleman yang terletak jauh di luar Jogja dan pusat keramaian. Orang sering mengistilahkan dengan nama Sleman coret). Sebuah acara yang cukup melelahkan meski saya sempat bolos beberapa hari untuk sekedar melihat dunia lain di luar acara shortcourse itu sendiri. Pada hari terakhir acara shortcourse itulah kami putuskan untuk singgah ke rumah Pak Nasikun sambil meghabiskan beberapa menit menjelang jadwal penerbangan kami.

Begitu tiba di rumah Pak Nasikun yang saat itu juga kebetulan tengah berbenah, beberapa dari kami memutuskan untuk pergi berbelanja membeli oleh-oleh. Saya sendiri memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu.

Ada yang membuat saya enggan pergi kemana-mana lagi saat itu. Selain karena lelah, perhatian saya saat itu tengah tersedot pada pikulan es dawet yang tengah mangkal di depan rumah. Saya langsung tertarik mencicipinya begitu mobil yang kami tumpangi parkir di depan rumah. Harus saya akui saya termasuk orang yang punya sensitifitas yang tinggi untuk mencicipi jajanan yang menarik perhatian saya. Maka begitu teman-teman saya pergi berburu oleh-oleh saya langsung menyambangi penjual es dawet itu.

***

Penjualnya seorang lelaki berumur bertubuh tirus yang ramah menyapa para pelanggannya. Properti yang dimilikinya sederhana saja. Dua pikulan yang berisi drum agak besar tempat penyimpanan es dan dawet. Lalu beberapa toples berisi cairan gula merah, ketan hitam dan irisan buah nangka.

Es dawet ini sendiri bisa beragam isi dan penamannya. Di Jakarta minuman sejenis ini biasa juga disebut dengan nama ”es cendol”. Cendol atau dawet itu sendiri biasanya terbuat dari tepung beras yang dibentuk seperti kumpulan cacing bertubuh pendek berwarna hijau yang lalu diberi kuah santan, gula merah, dan tentu saja balok es yang sudah diserut atau dipotong kecil. Sebagai aksesoris beberapa penjual dapat menawarkan beberapa pilihan tambahan ke dalam es. Ketan hitam, tape, irisan buah nangka, atau serutan kelapa muda.

Bila racikannya pas, kita akan mendapatkan kenikmatan minuman segar yang khas dengan harga yang sangat murah. Meski tak jarang kita juga akan menjumpai penjual es yang tampaknya tak terlalu mementingkan rasa. Entah rasa dawet yang tak enak dikunyah dilidah atau rasa hambar bahkan nek karena gula yang kurang atau bahkan terlalu manis. Saya begitu yakin rasa tak enak itu tak akan saya jumpai kali ini. Seperti saya sudah katakan, saya termasuk orang yang jeli dalam hal kuliner.

Penjual es dawet itu langsung menyapa saya begitu saya menghampirinya.

”Monggo mbak, dibungkus atau digelas?”

Saya sempat ragu memutuskan untuk membungkus minuman itu dan meminumnya di rumah Pak Nas atau nongkrong saja menemaninya sambil menikmati segelas es buatannya. Sesaat setelah saya melihat tersedia bangku plastik kosong di dekatnya segera saya putuskan untuk duduk saja disitu. Ia segera meracik segelas es untuk saya.

”Wah, tawonnya pada ngumpul nih pak?,” komentar saya melihat ”genuk” berisi cairan gula merah yang ramai dikelilingi lebah-lebah kecil.

”Iya, Mbak. Ini pake madu asli,” jelasnya.

”Dawetnya juga bikin sendiri, Pak?”

”Iya. Pagi buatnya. Trus dibuat dagang siang begini.”

Segelas besar es dawet tersaji dan saya langsung menikmati kesegarannya. Saya mencoba terus mengajaknya berbincang.

”Biasa mangkal di sini, Pak?”

”Iya. Tadinya sempet di sana dekat kampus sana. Trus pindah kesini.”

”Tinggal di mana pak?

”Dekat pasar sana.” Ia sempat menyebut sebuah tempat yang saya tak tau persis letaknya dimana.

”Dari rumah kesini jalan?,” rasa penasaran saya berlanjut. Tak mampu membayangkan bagaimana tubuh tirus itu berjalan dengan dua apikulan di pundaknya.

”Itu pake sepeda.” Ia menunjuk sebiuah sepeda ”jengki” yang tersampir pada sebuah tembok.

”Sehari habis berapa gelas, Pak?,” iseng saya bertanya melihat deretan gelas kosong yang baru saja ditinggalkan pembeli yang selesai menikmati dagangannya.

”Gak tentu. Kalo rame bisa seratus. Kadang juga lima puluh.”

”Sehari-hari dagang begini ’cucuk’ buat makan sehari-hari?,” berondong saya lagi.

”Ya alhamdulillah. Namanya rezeki ada yang ngatur.”

”Sudah berapa lama dagang pak?”

”Kalo dagang begini belum lama. Saya tinggal disini juga belum lama. Tadinya sempat dagang di pasar. Di kampung saya sana. Ponorogo.”

”O, asli Ponorogo ya pak?”

Daerah ini langsung mengingatkan saya pada Evi, teman dekat saya di Jogja yang biasa saya kontak bila saya kebetulan singgah di kota ini dan ia akan dengan senang hati menemani saya plesiran di kota ini. Juga pada Mbak Pur, teman ibu yang berprofesi sebagai tukang ayam potong. Meski ketiganya sama sekali tidak berhubungan.

”Iya. Tapi sudah lama juga saya gak tinggal di sana.”

”Dulu saya tinggal di Ternate, Mbak”.

Saya sempat terkejut mendengar pengakuannya yang terakhir. Tak pernah membayangkan ia pernah tinggal cukup lama di daerah di ujung lautan sana. Logat dan penampilannya sama seperti orang Jogja kebanyakan. Santun. ”Njawani” orang bilang. Saya bahkan sempat menduga ia telah cukup lama berdagang di sini. Ia tampak akrab dengan orang-orang yang tampak lalu lalang yang rata-rata merupakan mahasiswa di sekitar sini. Beberapa mahasiswi yang sempat lewat menyapanya dan ia membalasnya dengan ramah meski mereka tak membei dagangannya.

”Di Ternate hampir dua puluh tahun,” lanjutnya lagi. ”Di sana dagang juga. Sudah lumayan. Punya rumah. Tanah. ....tapi semua habis waktu kerusuhan itu. Untung keluarga semua selamet.... Setelah kerusuhan baru balik ke Ponorogo. Sempet bingung juga mau ngapain di sana. Wong sudah ndak punya apa-apa”.

Ia lalu bercerita tentang tiga anak-anaknya.

”Alhamdulillah sekarang tinggal satu yang kuliah di sini. Yang satu kerja tinggal di Malaysia. Satu lagi di Singapura. Anak saya laki-laki semua. Tapi ya pada mau bantu-bantu saya dan ibunya di rumah”.

Saya terdiam mendengar kisahnya. Saya sempat membayangkan Ternate, daerah yang yang belum pernah saya kunjungi, saat kerusuhan tahun 1999 terjadi. Siapa sangka saya akan menjumpai salah satu korban yang bertahan hidup di kota ini. Ia bahkan mampu memberikan pendidikan yang cukup tinggi bagi anak-anaknya. Jalan yang cukup panjang tampaknya telah dilaluinya. Inikah bagian dari jalan hidup?

Tanpa terasa saya telah menghabiskan gelas pertama saya. Saya bertanya berapa harganya.

”Seribu dua ratus lima puluh rupiah, Mbak,” jawabnya.

Saya sempat tak yakin dengan angka terakhir yang disebutnya. Keraguan saya dijawabnya dengan ditunjukkannya sebuah dompet lusuh berisi lipatan besar berisi lembaran uang ribuan dan sekumpulan uang receh termasuk logam lima puluh rupiah. Nampaknya harga lima puluh rupiah baginya bukan sekedar basa-basi. Ia siap dengan uang kembalian lima puluh rupiah. Pemandangan yang amat sangat langka saya jumpai.

Saya putuskan untuk menggenapkan lagi rasa dahaga saya sambil memesan kembali es dawetnya untuk porsi yang kedua. Percayalah, rasanya memenag enak luar biasa. Lagi pula teman-teman saya belum kembali dari berburu oleh-oleh. Dan saya masih punya waktu untuk berbincang dengannya.

”Umur berapa pak?”

”Lima puluh lima.”

Saya lihat wajah tirusnya. Umurnya hampir sama dengan ayah saya. Tapi ia terlihat lebih tua dari ayah saya. Kami melanjutkan beberapa obrolan. Sampai saya lihat rombongan teman-teman saya tiba. Segera saya bayar dua gelas es dawet yang telah tandas. Bertukar dengan uang dua ribu lima ratus rupiah. Kami tak punya waktu banyak. Segera saya pamit. Setelah sedikit packing dan berbasa-basi dengan tuan rumah saya dan teman-teman segera menuju bandara. Saya bahkan tak sempat menanyakan nama penjual es dawet yang masih tampak mangkal di depan rumah saat taksi menjemput kami. 

***

Beberapa hari di Jakarta saya masih teringat pada kesegaran es dawet itu. Juga pada kisah hidupnya. Saya sempat merasa gelisah. Bagaimana mungkin saya tak tahu siapa namanya. Saya coba menghubungi teman-teman saya di Jogja untuk mencari tahu siapa namanya. Bahkan bertanya pada Rina, anak Pak Nas, tempat penjual dawet itu biasa mangkal. Lewat sebuah pesan pendek, Rina menjawab, Wah.. saya juga ndak tau siapa namanya. Dia memang biasa mangkal disini. Kita bisanya cuma manggil Pak Dawet saja. Nanti coba saya tanya mbak-mbak yang ada disini. Saya kabari nanti...

Lama tak ada kabar. Namanya mungkin memang menjadi tak terlalu penting. Tetapi saya semakin penasaran dan terus berusaha mencari tahu. Termasuk menugaskan teman dekat saya di Jogja,  Evi yang asli Ponorogo, untuk menjadi detektif dadakan.

Wah... Susah, Mbak. Dua kali aku kesana dia gak ada. Gak dagang lagi kayaknya. Sekarang hujan terus. jawabnya pada salah satu email yang dikirimnya. Membuat saya merasa makin gelisah. Musin hujan memang telah tiba. membuat saya makin berfikir keras. Usaha apa yang dibuatnya disaat musim begini?

Sampai... Usaha mendapatkan nama itu akhirnya tiba juga. Lewat sebuah email Evi kemudian berkisah:

Mbak kayaknya dia memang sudak gak dagang lagi. Beberapa kali aku kesana gak pernah ketemu. Tapi ’ndilalah kemarin aku sempat mampir ke tempat kos temanku di dekat situ. Dia juga langganan es dawet Bapak itu. Kata dia namanya kalo gak salah Pak Tobirin gitu. Sekarang dia juga gak tau kemana Bapak itu. Semoga ini bisa bantu ngurangi rasa penasarannya ya Mbak... ;-)

Saya balas emailnya dengan ucapan terima kasih dan meminta maaf telah sangat merepotkannya. Saya berjanji akan simpan baik-baik nama itu. Berharap dapat bertemu dan kembali merasakan kesegaran es dawetnya suatu hari nanti. Sebuah harapan yang tampaknya agak sulit terwujud.

Baru-baru ini saat saya berkesempatan mengunjungi Jogja dan kembali bertamu ke rumah Pak Nasikun jejak penjual es dawet itu sama sekali tak berbekas.

last modified: Maret 2006

May 16, 2007

Geliat Kota Doha

Qatar_airways_2

Banyak yang merasa excited saat saya kabarkan pada teman-teman saya bahwa saya akan berangkat ke

Doha

,

Qatar

, beberapa hari setelah merayakan lebaran tahun lalu. Beberapa dari mereka bilang Doha merupakan kota yang modern dan cantik. Banyak pula yang menggoda saya. “Jangan lupa kembali karena tergoda raja minyak sana lho…”. Saya hanya senyum-senyum saja.

Doha adalah ibukota dari negara kecil di semenanjung Arab, Qatar, yang mengalami tingkat kemakmuran yang tinggi sejak ditemukannya cadangan minyak dan gas bumi dalam skala besar pada tahun 1940-an. Luas negara ini kira-kira sama dengan pulau Bangka di Indonesia. Letaknya yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi di bagian selatan dan dikelilingi Teluk Persia, sempat disebut-sebut sebagai salah satu wilayah bagi pangkalan militer tentara Amerika saat Perang Teluk tahun 1990 lalu.

Saat berangkat, saya tak punya bayangan apapun tentang Doha selain bagian dari negeri gurun yang pastinya panas luar biasa. Panitia acara yang mengundang saya sebelumnya telah mewanti-wanti dalam hal “aturan berpakaian”.

“Tak ada aturan khusus dalam hal berpakaian. Meski begitu, harap Anda mempertimbangkan iklim di Qatar yang lumayan panas meski ini sudah masuk bulan November”, tulis mereka lewat surat elektronik.

Saya berkesempatan mengunjungi Doha atas undangan panitia seminar internasional tentang demokrasi yang sebagian besar dananya ditanggung oleh PBB lewat UNDP-nya. Ini kegiatan rutin tiga tahunan yang mempertemukan tiga elemen penting negara demokrasi. Parlemen, pejabat di tingkat eksekutif dan masyarakat sipil. Bersama Mas Cahyo rekan seperjalanan saya yang berangkat dari Surabaya dan sama-sama menjadi peserta baru di acara konferensi ini, kami tentu diundang untuk mewakili elemen yang terakhir. Sebelum Doha yang menjadi tuan rumah untuk acara konferensi yang keenam ini, Filipina dan Ulanbataar, Mongolia, sempat pula menjadi tuan rumah konferensi sebelumnya.

Saya tak tau persis bagaimana Doha bisa terpilih menjadi tuan rumah kali ini. Mungkin juga menyangkut kesiapan dan promosi sang tuan rumah pada acara konferensi sebelumnya. Yang jelas, saya sempat dibuat tak yakin dengan kesiapan panitia mengingat lambatnya informasi yang mereka berikan. Segala urusan keberangkatan  saya urus injury time. Belakangan saya tau ternyata banyak juga peserta di beberapa negara (Malaysia salah satunya) yang tak bisa berangkat karena urusan administrasi yang harus diurus serba mendadak ini.

Kecantikan kota Doha yang banyak dihembuskan para teman menjelang keberangkatan saya ke negeri gurun itu pun tak nampak saat pesawat yang saya tumpangi bersiap mendarat di pagi dengan sinar matahari yang cukup menyengat akhir Oktober lalu. Yang tampak hanya bangunan-bangunan persegi dengan tanah kering kecolaklatan di sana-sini. Sebuah kaldron dengan logo khas menyambut Asean Games tampak mencolok mata. Mengingatkan saya bahwa Doha juga tengah bersiap menyambut hajatan besar tak lama lagi. Aha.. mungkin banyak yang bisa dilihat berkaitan dengan persiapan hajatan ini, batin saya saat itu.

Pembangunan_di_kota_doha_4

Tki_1

Nyatanya, Doha memang kota yang modern dan cantik. Pembangunan tengah dilakukan di sana-sini. Membuat jalan sedikit macet. Kemoderenan kota ini tampak dari bangunan-bangunan gedung bertingkat yang tampak disana-sini. Dengan arsitektur modern mendominasi. Saya sempat terheran-heran dengan banyaknya gedung baru yang tampak belum sepenuhnya selesai dibangun. Apakah ini khusus dibuat demi persiapan Asean Games nanti? Supir taksi yang siang itu mengantar saya meyakinkan keragu-raguan saya.

"Ini negeri kaya. Tak payah membuat gedung dalam sekejap", begitu kira-kira jawaban sang supir yang berasal dari Kerala, India ini. Termasuk untuk membangun sebuah perkampungan atlet dan gedung yang diperuntukkan sebagai kampusnya para atlet dari berbagai negara pada acara Asean Games nanti. Proyek pembangunan ini mengingatkan saya pada legenda Loro Jonggrang dalam versi modern mengingat event Asean Games pun hanya tinggal menghitung hari.

Pembangunan di sana sini tampaknya juga akan menjadikan Doha salah satu kota penting bagi acara-acara internasional nantinya. Sebelum ini telah banyak acara penting yang telah dan akan diselenggarakan di kota ini. Sebut saja pertemuan WTO yang akan digelar Maret tahun 2007 nanti. Konon, permaisuri dari Emir saat ini turut berperan bagi penciptaan negeri Qatar yang terbuka dan lebih dikenal dunia. 

Selain modern, Doha juga kota yang multikultural. Banyak pekerja migran dari berbagai negara disini. Kebanyakan dari negara-negara Asia dan Afrika yang mencari peruntungan di negeri yang tingkat kemakmurannya disebut-sebut setara dengan negara-negara Eropa ini. Saat berkeliling kota, saya sempat melihat ada sekolah khusus bagi anak-anak warga Filipina. Menurut keterangan teman asal Filipina yang saya kenal saat konferensi, konon total pekerja Filipina melebihi penduduk asli kota Doha itu sendiri. Tenaga kerja asal Filipina pun terkenal dengan keprofesionalan mereka. Kebanyakan dari mereka menempati posisi yang lebih tinggi dari negara-negara lainnya –terutama dari Asia Selatan-- yang kebanyakan menjadi buruh kasar. Tenaga kerja dari Indonesia pun banyak. Selain dari India, Pakistan, Libanon, Bangladesh, Nepal, dan negeri-negeri tetangga lainnya.

***

Saya beruntung bertemu supir yang mau mengantar saya sedikit berkeliling kota dan banyak cerita di sana sini. Bersedia bersabar menunggu dan memberi kesempatan bagi saya untuk mengambil gambar. Meski, tak semua objek boleh diabadikan. Beberapa gedung perkantoran seperti gedung pemerintahan, markas tentara yang bentuknya seperti benteng, atau “istana” tempat sang Emir biasa bertugas sehari-hari, pada pelataran luar jelas-jelas terpancang plang yang melarang kita untuk mengambil gambar. Larangan ini tidak main-main. Saya sempat merayu sang supir untuk berhenti sejenak di depan istana dan ia dengan keras menolaknya.

”Jangan coba-coba Anda langgar kecuali Anda ingin merasakan penjara sini!”, tegas sang supir saat saya bertanya mengapa larangan itu diberlakukan.

Alhasil, saya hanya bisa mengagumi arsitektur beberapa bangunan terlarang itu dalam hati.

Keberuntungan saya bertambah saat bertemu dengan beberapa pekerja dari Indonesia. Beragam profesi mereka. Pegawai hotel, pekerja di perusahaan minyak, atau sekedar pekerja musiman yang tengah mengerjakan kontrak untuk beberapa bulan saja. Ada nuansa lain saat kita bertemu warga negara sendiri di negeri orang. Meski kita tak pernah kenal sebelumnya dan dalam pertemuan yang singkat. Nyatanya, salah satu dari mereka bersedia menjadi guide untuk melihat lebih dalam kota Doha saat kami berkesempatan mempunyai waktu luang di luar acara masing-masing.

Saya sempat pula bertemu dengan staf kedutaan Indonesia disini. Kami sempat ngobrol dan berjanji bertemu kembali untuk menelisik Doha lebih jauh. Janji yang tak seharusnya terlalu diambil hati. ”Gaya diplomasi pejabat” begitu istilah yang dilontarkan Mas Cahyo, teman seperjalan saya, saat mendapati sulitnya mengkonfirmasi janji ”sang pejabat” tadi.

Kami –saya, Mas Cahyo dan Budi, peserta konferensi dari Jenewa yang baru saya kenal di acara konferensi dan ternyata wong Jowo dengan bahasa Inggris yang begitu mengalir seperti air dan menggunakan bahasa Perancis untuk setting di ponselnya tapi begitu kangen makan tempe bongkrek dan ngomong ”jancuk!” sangking begitu lamanya tak balik ke Indonesia—kemudian memutuskan untuk lebih memerhatikan janji dengan kenalan baru kami para pekerja dari Indonesia di negara yang menjual bensin jauh lebih murah dari air mineral ini.

Bersama Dodi, guide dadakan kami yang berasal dari Surabaya namun telah dua tahun tinggal dan bekerja di Doha, kami atur jadwal agar bisa melihat lebih jauh kota Doha. Dodi adalah salah satu front office hotel Four Season, salah satu hotel termegah di

kota

Doha

. Ia tampaknya sudah tahu betul seluk beluk

kota

Doha

yang lebarnya tak seberapa ini.

Dengan waktu yang serba terbatas kami memutuskan untuk keliling

kota

dengan taksi sewan. Kami berkeliling pasar dan jalan-jalan di pinggir

kota

dengan bangunan-bangunan apartemen sederhana di sana-sini. Dodi lalu berkisah beberapa rumah penduduk di pusat

kota

pun sempat mengalami penggusuran yang dipindahkan ke pinggir-pinggir

kota

demi pembangunan

kota

Doha

. Ia juga memastikan biaya hidup yang cukup tinggi di

Qatar

. Termasuk dalam hal sewa tempat tinggal yang biasanya dihitung per meter. Selain ada konvensi tak tertulis, jangan pernah berharap orang migran mampu memiliki tanah sendiri karena tanah hanya dimiliki penduduk asli dan tak akan diperjual belikan dengan orang migran kecuali untuk sewa.

***

Sama seperti beberapa kota di Asia, tak semua taksi resmi di sini. Beberapa merupakan mobil pribadi yang disewakan untuk dijadikan taksi gelap. Para sopirnya kebanyakan dari India atau Pakistan. Meski sebutan taksi gelap sebenarnya tak terlalu mengkhawatirkan di sini. Mereka tetap profesional dengan harga yang bisa kita sepakati dari awal. Mereka umumnya adalah para penduduk migran yang dengan uang simpanannya mampu membeli atau menyewa mobil bekas untuk dijadikan taksi. Bila kita beruntung kita bahkan bisa menjadikan sebagai guide wisata kita. Taksi-taksi ini, baik yang resmi dengan argo maupun tidak, umumnya pun punya aturan yang sama dalam penetapan harga. Atas alasan sepi penumpang, tarif malam biasanya sedikit lebih mahal dibanding siang hari.   

Saat berkeliling, kami juga menyempatkan diri untuk makan siang di rumah makan Padang di sudut kota yang asli dikelola oleh orang Padang namun juga mempekerjakan pegawai dari luar Indonesia ini. Saya sempat mengagumi masakannya yang enak dan pasokan bumbu yang cukup lengkap. Tentu saja dengan harga yang jauh lebih tinggi di banding di Indonesia. Ada beberapa rumah makan Indonesia di Doha. Meski tak banyak. Beberapa bumbu dan sayuran dipasok secara rutin dari Srilangka.

Corniche_1

Salah_satu_pasar_tradisional_3_1

Salah_satu_pasar_tradisional_2

Pertemuan dengan Dodi juga memberi kemewahan lain karena saya berkesempatan menikmati keindahan kota Doha melalui Hotel Four Season dan Sheraton yang letaknya berdekatan. Dua hotel mewah ini menampilkan pemandangan pinggir pantai yang indah. Di seberangnya kita bisa melihat sudut lain kota Doha. Pantai yang juga menjadi pelabuhan dan keindahannya bisa juga kita nikamti di sepanjang jalan raya ini juga biasa menjadi tempat nongkrong. Orang menyebutnya corniche. Di pantai ini disewakan pula kapal-kapal hias yang akan mengantar kita ke seberang kota bila kita ingin sedikit berpesiar.

***

Bagi Anda yang berniat berbelanja tak perlu bingung karena ada beragam jenis pasar dengan beragam barang yang dijual di Doha. Mulai dari mal-mal dengan gedung megah sampai pasar-pasar tradisional dengan arsitektur bangunan khas gaya Arab. Kebingungan akan muncul justru bila kita bertanya apa makanan atau barang khas yang bisa kita jadikan oleh-oleh dari kota ini. Multikulturalnya kota Doha juga ditunjukkan dengan beragam pasokan barang dari beragam negara di Asia. Terutama dari Cina, India, Pakistan, dan Iran. Beberapa makanan bahkan merupakan pasokan dari Dubai.

Saya lebih suka ”cuci mata” di pasar-pasar tradisional sini ketimbang mengunjungi mal-mal megah dengan harga yang cukup tinggi. Syuq (pasar) mereka bilang. Saya baru merasakan atmosfer dunia Arab yang sesungguhnya di pasar-pasar tradisional ini. Bentuk-bentuk bangunan dengan arsitektur menyerupai kubah-kubah dan kayu-kayu penyangga sebagai aksesoris. Dan... hal yang sangat menarik dari pasar tradisional ini adalah kios-kios-nya yang berpendingin udara meski dari luar bentuk kios-kios ini kelihatan sederhana saja. Hingga kita tak perlu khawatir dengan udara panas yang menyengat di luar sana.

Masih menurut Dodi, bangunan pasar-pasar tradisional ini pun tak lepas dari proyek revisi dalam rangka menyambut Asean Games nanti. Saya sempat melihat perbaikan bangunan dan jalan di sana-sini. Semua tampaknya demi mewujudkan visi Pemerintah Qatar sendiri yang telah jauh-jauh hari berpromosi bahwa di Doha kita akan dapat melihat perpaduan bangunan dengan gaya tradisonal dan modern yang harmonis.

Aneka barang dengan aksesoris arab yang kental dapat pula kita jumpai di pasar-pasar tradisional ini. Baju-baju gamis, jubah, kopiah, kerudung, beberapa souvenir yang menampilkan gambar padang pasir atau unta sebagai logo dan logo ”si mata biru” (blue eyes) yang dikenal sebagai peruntungan bagi warga Arab bisa kita dapatkan di sini. Baju-baju kurung dari kain sari India atau Pakistan juga banyak dijual disini. Juga karpet dan hambal dari Iran dan Pakistan. Bagi para perempuan yang berniat mempercantik tangan mereka dengan ukiran dan riasan hena yang aslinya berasal dari India juga bisa dilakukan di sini. Para pedagangnya pun banyak yang berasal dari India dan Pakistan. Mereka biasanya ramah dan langsung mengenali para pembeli yang berasal dari Asia terutama dari Indonesia. Tampaknya pamor masyarakat Indonesia yang suka berbelanja sampai pula disini.

Anda tentu saja harus pandai menawar bila ingin berbelanja di pasar-pasar tradisional ini. Syukur bila Anda mampu berbahasa Arab agar bisa mendapat harga yang lebih bersahabat. Saran lain yang penting untuk diperhatikan agar tak kecewa pada waktu berbelanja selain tak lupa untuk menukar uang anda dengan uang Real Qatar yang rate-nya sedikit lebih tinggi dari Real Saudi adalah ada baiknya kita cermat mengingat waktu buka pasar maupun mall di kota ini bila tak ingin kecewa. Waktu buka semua pasar maupun mall yang tersebar di kota Doha ini umumnya seragam. Mereka buka pada pukul sembilan atau sepuluh pagi lalu tutup pada pukul dua belas atau satu siang. Setelah itu mereka  akan buka kembali toko-toko mereka pada pukul empat atau lima sore hingga malam pukul sepuluh malam. Beberapa bahkan buka sampai buka pukul dua belas malam. ***

Last modified: 29 Nov 06.    

March 27, 2006

Apalah Artinya Cinta

Ramayana

Sebuah obrolan di Minggu pagi menjelang siang. Di sebuah stand barang-barang souvenir di anjungan Sulawesi Selatan Taman Mini Indonesia Indah.

Pagi yang muram mendamparkan aku dan adikku di stand ini. Setelah letih berkeliling (kami sempat mampir di anjungan Riau yang masih tercium bau cat pada dinding-dinding kayunya dan Museum Penerangan yang tak menarik isinya) dan senam pagi pasca subuh tadi. Tiba-tiba hujan mengguyur di tengah perjalanan. Cepat kuputuskan untuk berteduh di anjungan terdekat. Dan Sulawesi Selatan tampak di depan mata. Aku sempat terduduk sebentar di salah satu tangga rumah anjungan yang hampir reot. Ku amati beberapa rumah tongkonan yang tampak megah di depan mata. Beberapa orang berkerumun di bawahnya. Berteduh seperti aku. Selintas bayangan sempat membawa aku pada kenangan ke Tana Toraja beberapa waktu silam.  Bayangan yang sama saat aku mampir di anjungan Riau tadi. Merasakan de ja vu.

Konsep bangunan Taman Mini ini memang luar biasa. Orang tak perlu datang ke daerah-daerah yang ada di Indonesia untuk sekedar mengetahui budaya yang dimilikinya. Meski hanya diwakili oleh rumah-rumah adat yang megah berdiri dengan beberapa pernik yang disimpan didalamnya. Kalau kita beruntung, kita pun dapat menyaksikan pagelaran budaya disini. Menjadikan ajang klagenan. Menghapus sejarah kotor yang sempat meruap saat pembangunan tempat ini dimulai (kau tau kisah ambisius Nyonya Tien Soeharto pada salah satu warisan kebanggaannya ini kan?).

***

Stand itu terletak persis di bawah tangga tempat aku duduk. Sempat kulirik beberapa bandrol harga yang menempel pada beberapa barang. Merasa agak aneh dengan angka yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran penjualan barang di tempat wisata.

Bosan duduk mencangkung menunggu hujan aku putuskan untuk singgah pada stand itu. Beberapa barang unik menyergap mata. Membangkitkan kembali gairah berbelanja. Meski aku sudah menenteng sekantung plastik berisi barang-barang obralan yang biasa terhampar di depan tugu saat orang ramai melakukan olah raga pagi. Kau bisa mendapatkan beraneka barang dengan harga kaki lima di situ. Tak hanya perlengkapan olah raga. Adikku sempat bercerita heboh bahwa ia mendapatkan sekeping MP3 berisi lagu-lagu Kla project tanpa sempat dibayar karena pedagangnya tiba-tiba diringkus petugas tanpa sempat ia menyelamatkan diri apalagi barang-barang dagangannya.

Uang yang makin menipis tak menyurutkan aku untuk mengamati barang-barang yang dipajang di stand itu. Tak semuanya berciri khas Sulawesi Selatan. Hampir tak ada malah. Kerajinan Jogja hampir mendominasi. Aku sempat terpikat pada jam weker berbentuk kotak rokok malioboro dengan tutup yang terbuka. Dengan batang-batang rokok yang menyembul dan detil yang dibuat mirip dengan aslinya. Dalam ukuran yang lebih besar tentu.

Penjaga stand ini seorang laki-laki berusia tanggung. Mencoba ramah menyapa sambil membersihkan lantai yang basah karena tempias hujan. Iseng aku menanyakan harga secara acak. Menanyakan rantaian gelang yang tampak terputus. Ia tak segan melayani meski aku tak membeli. Beberapa barang mengingatkan aku pada koleksi yang sempat pula aku temui di toko batik Mirota Jogjakarta atau pedagang-pedagang yang berjejer di sepanjang jalan Malioboro. Dengan harga yang tak jauh berbeda. Membulatkan kepastianku bahwa harga barang-barang di stand ini termasuk murah meriah.

Aku sempat bertanya bagaimana ia bisa memasang harga yang tak terlalu tinggi pada barang-barang dagangannya.

”Kita ambil langsung dari pengrajinnya, mbak. Kalo gak, mana bisa nutup. Bos-nya juga punya usaha sendiri. Ini tas-tas bikinannya,” jawabnya sambil merapikan beberapa barang.

Aku melirik beberapa tas tangan yang berjejer pada salah satu etalase. Tas-tas dari bahan sintetis yang akan banyak kita jumpai pula di kaki lima emper jalan atau statiun kereta.

”O, kirain ngambil dari Bogor ,” tukasku mengingat pada produsen tas di Tajur Bogor.

Kuamati bandrol harga yang terpasang pada salah satu tas. 8.000 rupiah. Gosh! Berapa biaya produksi yang dikeluarkan untuk sebuah tas berharga jual 8.000 rupiah? Aku tak tau. Harga yang terpasang pun masih belum harga pasti. Sebuah tas rajut berhasil kumiliki setelah menawar dengan selisih harga lima ribu dari harga asal yang ditawarkan.

”Pajak disini kecil ya bang?” Adikku mencoba merasionalisasi. Ia tampaknya terkejut-kejut juga dengan harga jual barang-barang disini.